Farnida Malahayati

This blog is containing about all myduties of management

“Pengaruh Anak Jalanan dan Pekerja Anak Terhadap Sosial (Budaya, Politik dan Ekonomi) di Indonesia” October 13, 2012

Filed under: Uncategorized — FarnidaMalahayati @ 4:18 am

Pernahkah terpikirkan oleh kita nasib anak-anak jalanan, para pengamen jalanan???
Mereka juga makhluk Tuhan Yang Maha Esa yang dihadapannya semua adalah sama. Namun sering mereka terkucilkan dan bahkan tidak mendapat hak yang sama dalam kehidupan bermasyarakat sebagai warga Negara, khususnya dalam memperoleh pendidikan.
Dalam contoh konkret fenomena pekerja anak dan anak jalanan di Indonesia pada dasarnya merupakan dampak negatif yang ditimbulkan dari pembangunan yang tidak merata. Pembangunan hanya dapat dinikmati oleh segelintir orang saja, sehingga terjadi jurang pemisah sosial dan kemiskinan. Anak-anak jalanan dan pekerja anak merupakan kelompok sosial yang tersisihkan dari mainstream sosial atau dengan kata lain telah mengalami eksklusi sosial. Posisi mereka menjadi termarjinalkan karena tidak mempunyai posisi sosial (budaya, politik, ekonomi) yang jelas di tengah-tengah masyarakat. Mereka mengalami stigmatisasi yang terus-menerus dalam masyarakat karena memiliki ciri-ciri mobilitas geografis dan mobilitas pekerjaan yang tinggi, pendatang musiman, pekerja tak tetap, orang yang tak mempunyai tempat tinggal tetap, dan tingkat pendapatan sangat rendah atau subsisten. Anak-anak dari golongan kelas sosial bawah tersebut harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga agar tetap survive.
Kondisi pekerja anak di Indonesia sangat memprihatinkan. Mereka sering bekerja tanpa dibayar (unpaid workers) karena bekerja untuk membantu orang tua dalam sektor informal atau bekerja dengan waktu yang sangat panjang di sebuah perusahaan namun tidak mendapatkan upah yang sesuai dengan tenaga yang mereka keluarkan. Dengan kata lain, mereka telah mengalami eksploitasi baik oleh keluarga sendiri maupun oleh sistem ekonomi pasar kerja yang kompetitif, dimana menekankan pada sistem pengupahan yang fleksibel untuk tujuan efisiensi yang sebesar-besarnya.
Hal ini tidak menguntungkan bagi mereka karena menimbulkan dampak negatif secara fisik maupun psikologis.

“Mengingat kompleksnya permasalahan yang dihadapi oleh pekerja anak, perlu ada kebijakan khusus bagi anak-anak yang bekerja. Melarang anak-anak untuk tidak bekerja sama sekali bukan merupakan kebijakan yang tepat, walaupun ILO memiliki program penghapusan pekerja anak (Iinternational Program on The Elimination of Child Labor – IPEC). Bagi penduduk miskin, pendapatan anak-anak sangat membantu menopang kelangsungan hidup keluarga.
Beberapa alternatif kebijakan yang mungkin dapat diambil adalah dengan cara melakukan intervensi baik bagi pekerja anak maupun bagi orangtua. Misalnya dengan memberikan bantuan berupa beasiswa bagi anak-anak untuk bersekolah dan penciptaan lapangan kerja bagi orang tua melalui program padat karya. Mengingat sumber daya pemerintah yang terbatas, maka program penanggulangan masalah pekerja anak dapat diprioritaskan bagi anak-anak yang mempunyai kepala rumah tangga berpendidikan rendah. Keluarga yang demikian diduga merupakan keluarga miskin, sehingga anak-anak yang berasal dari keluarga ini akan rentan terhadap eksploitasi, dan berpeluang untuk terjerat dalam lingkaran kemiskinan. Selain dengan tegas menolak eksploitasi anak, dan memberlakukan hukum dengan konsekuen, perhatian pemerintah harus difokuskan mencegah pekerja anak putus sekolah atau tidak mengenyam pendidikan sama sekali. Disamping itu mutu pendidikan harus pula terus-menerus diperbaiki agar rasa skeptis masyarakat terhadap sistem pendidikan nasional hilang, dan berupaya keras untuk mengirimkan anak-anaknya ke sekolah”.

http://www.depsos.go.id//modules.php?name=News&file=article&sid=471

Pada era reformasi yang masih terus digulirkan di Negara kita, menyisakan dampak sosial yang bermuara pada pegeseran tatanan sosial kemasyarakatan baik di bidang sosial ekonomi maupun politik di lingkungan masyarakat yang dampaknya bahkan meluas sampai kepolosok daerah. Begitu pula dengan nilai-nilai budaya, tidak terlepas dari pergeseran yang diakibatkan adanya perubahan system kebijakan pemerintah dalam era reformasi saat ini.
Dampak dari adanya fenomena anak jalanan dan pekerja anak dalam jangka panjang akan mengakibatkan keterpurukan ekonomi dan sosial di Indonesia. Hal tersebut dapat diprediksikan dari rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia. Rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia disebabkan karena anak-anak dari keluarga kelas bawah, yang merupakan modal pembangunan nasional, tidak memiliki kesempatan untuk mengenyam pedidikan yang berkualitas.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.